Prabowo dan “Ekonomi Singkong”

Prabowo - SBY

Foto: Prabowo (kiri) bersama SBY. Foto: Harian Terbit

 

Prabowo Subianto bukan “anak singkong”. Bukan karena “anak singkong” yang menjadi kiasan dari latar belakang kelas bawah seseorang terlanjur lekat dengan salah satu media moghul Indonesia. Tetapi karena memang dia lahir dari keluarga terhormat, Djojohadikusumo. Kakeknya, Margono Djojohadikusumo adalah pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan anggota BPUPKI. Ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, adalah ekonom yang memegang beberapa jabatan menteri pada periode kepemimpinan Soekarno maupun Soeharto.

Walaupun tidak tergolong anak singkong, tidak berarti mantan Danjen Kopassus itu tidak bisa bersentuhan langsung dengan tumbuhan yang umbinya kerap diasosiasikan sebagai makanan wong cilik. Sebagai pengagum Soekarno, Prabowo sadar cita-cita besar bertumbuh dari hal sederhana sebagai fundasinya. Dia juga paham bahwa untuk menjadi pemimpin nasional dia harus mengenal masyarakat banyak dan mengambil pelajaran dari kehidupan dan apa yang dihayati wong cilik.

Soekarno melahirkan ideologi Marhaen dari perkenalannya dengan petani sederhana bernama Mang Aen. Pertemuan dan komunikasi dengan petani sederhana menginspirasi Soekarno akan pentingnya modal sebagai faktor produksi dan keseimbangan antara produksi dan konsumsi dalam rumah tangga. Ide itu semakin berkembang hingga melahirkan konsep sosio-nasionalisme.

Belajar dari Soekarno, Prabowo memahami bahwa jika ingin menularkan nasionalisme pada kaum sebangsa maka dia perlu menggali nilai-nilai ke-Indonesia-an. Demikian pula, jika ingin berbicara mengenai ekonomi kerakyatan, dia pun harus lebih dulu “menggali” ekonomi hidup, termasuk makanan yang dikonsumsi masyarakat jelata. Singkong termasuk di dalamnya.

Prbowo - viva

Program Ekonomi Kerakyatan ala Prabowo

Prabowo sadar, berkoar-koar soal angka-angka makro ekonomi hanya sebatas untuk membungkam kritik dari kalangan berpendidikan tinggi. Angka pertumbuhan ekonomi nasional, Produk Domestik Bruto (PDB), Indeks Harga Konsumen, nilai inflasi bisa menjadi rujukan kesuksesan pemerintahan. Namun, angka-angka itu tidak akan dipahami rakyat selama tidak ada perubahan kesejahteraan. Apalah artinya cadangan devisa, nilai tukar, dan utang pemerintah. Angka-angka kumulatif tersebut tidak bersentuhan langsung dengan perjuangan rakyat banyak untuk mempertahankan hidup mereka. Statistik itu bisa menjadi rujukan pertumbuhan ekonomi yang dipandang manipulatif bila kesenjangan kaya miskin justru semakin lebar.

Tak heran bila Prabowo sempat melontarkan kritiknya tentang potensi pasar Indonesia yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi. “Kita adalah negara besar…ke-16 dalam besaran ekonomi, yang merasakan angka pertumbuhan ekonomi 6,5 persen. Semua ini angka-angka yang mengagumkan. Tetapi nyatanya kita besar karena konsumsi bukan karena produksi. Kita tumbuh karena ekstraksi sumber alam kita. Bangsa lain melirik Indonesia hanya untuk mengambil sumber alam kita dan pangsa pasar kita yang besar,” tandas Prabowo.

Prabowo ingin mengubah predikat yang dibanggakan itu. Mantan Pangkostrad ini ingin produksi unsur produktivitaslah yang menjadi rujukan, bukan konsumsi. Maka di kala persoalan ekonomi seputar konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akhirnya mengemuka, Prabowo justru menemukan solusinya. Saat, subsidi BBM menjadi bahan perdebatan, singkong muncul sebagai ilham Prabowo. Saat penghapusan subsidi BBM dijadikan gonjang-ganjing politik yang mengatasnamakan rakyat, Prabowo muncul dengan pikiran alternatif yang mudah dipahami rakyat kebanyakan, dengan teori dan hitungan matematis yang sederhana yang berbasiskan kebutuhan wong cilik.

Menurut Prabowo, penghentian subsidi BBM menungkinkan dilakukannya subsidi langsung sebesar Rp 300 triliun. Jika dari nilai tersebut diambil sepertiganya atau Rp 100 triliun untuk mencetak lahan produktif, maka akan diperoleh lahan seluas 2 juta hektar. Lahan itu bisa dimanfaatkan untuk menanam singkong.

Mengapa singkong? Karena singkong bisa diproduksi menjadi bioethanol, salah satu produk energi alternatif, produk biofuel untuk menggantikan BBM. Hasil dari lahan produktif singkong seluas 2 juta hektar bisa dikonversi menjadi 125 juta barel bioethanol per tahun. Jumlah tersebut sudah setara dengan 25 persen kebutuhan BBM nasional.

Dengan teknologi yang tepat, saya yakin kita bisa tingkatkan produksi sampai memenuhi 50 persen kebutuhan nasional. Dengan mencetak lagi lahan produktif, kita bisa memenuhi seluruh kebutuhan BBM nasional dari singkong,” tandas Prabowo.

Ini solusi yang dasyat. Satu solusi yang tepat dan terarah bisa menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus. Program singkong yang diproyeksikan Prabowo tidak hanya menyelesaikan persoalan BBM, tetapi juga sederet pekerjaan rumah Pemerintah lainnya. Alokasi pengalihan subsidi jadi lebih terarah dan tepat sasaran. Impor BBM yang menguras keuangan negara dapat dikurangi. Lahan luas yang tidak produktif dimanfaatkan secara maksimal. Masalah penyerapan tenaga kerja pun ikut memperoleh jalan keluar. Prabowo memperkirakan, bila program ini dijalankan maka terhitung dari hulu hingga hilir akan terbuka lapangan kerja baru bagi delapan hingga 12 juta warga.

Solusi ekonomi kerakyatan yang ditawarkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini memang terlihat sederhana, hanya bermodalkan SINGKONG. Tapi, justru dari sesuatu yang sederhana, yang lekat dengan masyarakat kecil, dan yang sering diabaikan orang inilah lahir visi besar bagi bangsa dan negara.

 

***************

 

Baca Juga:

  • Matematika Suara Pemilih dan Disorientasi Demokrasi – – –  Pilihan manusia merupakan kombinasi dari akal, kehendak, dan rasa. Sedangkan arah konsep public choice, sebagaimana penerapan statistik dalam ilmu politik adalah untuk berkontribusi bagi kebijakan publik. Bila kemudian konsep-konsep ini mengalami bias dan kekeliruan dalam praktek demokrasi itu disosialisasikan, maka jangan keliru bila demokrasi dalam tataran praksis akan mengalami disorientasi alias rusak…..

  • Dari Ken Arok hingga Golkar – – – Ada unsur seni yang terlihat dalam intrik dan pertarungan kekuasaan karena dalam perpektif kaum positif selalu ada nilai-nilai luhur yang diperjuangkan atau yang dihasilkan dari kontroversi politik. Wajahnya bisa berupa keadilan, kebebasan, tatanan baru, kedamaian, kesejahteraan, hak, keamanan hingga toleransi; nilai-nilai kebaikan bersama (common goods) yang diidealkan dari kekuasaan ……….

  • Raksasa Tidur – – – Pada awal abad ke-20, Jepang menjadi rujukan ‘raksasa tidur’ dalam tatanan hegemoni global. Dekade-dekade akhir abad XX, mata Amerika dan Eropa tertuju pada raksasa Asia lainnya, yakni China. Disebut “raksasa tidur” karena potensi China pada awalnya lebih mudah terendus dari ekspansi produknya, kekuatan ekonominya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s